Uncategorized

AKHIR HAYAT TIDAK MENGENAL SIAPA KAMU

Kemarin, pada hari Jumat Berkah, 5 April 2019, temanku, @dinnimbolly kembali kepangkuan Allah. Banyak banget yang ngga nyangka, termasuk aku. Belum lama ini, masih DM-DMan Instagram nanyain kehamilanku, baru kemarin dia traveling, baru kemarin dia masih bugar dan ceria. Kabar mengagetkan dateng dari temen seperjuangan @jenniferoksiani, “Kak, udah tahu kan Kak Dini dirawat di rumah sakit?”

Ngga pernah terbesit dipikiran aku, seorang Dini akan dirawat. Dia begitu ceria, begitu kuat, tiba-tiba melemah dalam seketika. Tanpa pikir panjang, aku langsung meluncur ketempat ia dirawat. Ketika sampe sana, baru sadar kalo aku hamil, Suami udah ngga ijinin masuk, khawatir. Ku bilang sama janinku, “Dek, kita kuat kan ya, sehat, mau jenguk Tante Dini dulu, ngga apa-apa ya dek”. Bismillah, ku masuk keruangan ICU. Bingung, ngeliat Dini pake banyak banget alat kaya disinetron, ngga pernah liat yang seperti ini sebelumnya. Bingung, Dini kan sehat kenapa pake banyak alat kaya gini?

“Assalamualaikum, Din. Assalamualaikum, Dini. Assalamualaikum, ini Regita, ini aku bela-belain dateng loh, lagi hamil begini, bangun yuk. Mau ku bacain surat Al-fatihah? Ku bacain ya”. Baru itu yang bisa ku lafalkan ke Dini. Lalu, Kakak Dini menyapaku, “Temennya Dini juga, Mbak?”, “Iya, Mbak”. Beliau bercerita, “Dini ini ngga mau ngerepoti orang, Mbak. Udah lama ngga enak badan, kataku, kalo ngga enak badan kedokter-o, Din. Dia ngga mau. Keluarganya mau dateng nemeni, ngga boleh.”

Dini emang sebaik dan semandiri itu :”

Aku masih inget, sejak ia masuk, setiap ada tanggal kejepit atau memang momen yang pas untuk cuti, tujuan cuti ia cuma 2, pulang ke Madiun dan jalan-jalan. Tujuan pertama diutamakan. Dini emang se-family-girl itu. Semasa masih kerja bareng, aku yang selalu dibekeli Mama, suka berbagi makan siang sama dia, sampe ku ajak kerumah, nginep untuk nyicipi masakan Mamaku langsung. Akrab, “Mama Yaya, masak apa, Mbak?. Mama Yaya, gimana Mbak?”

Dini juga termasuk anak yang pinter ngelola uang. Salary sebagai anak MDP pasti “cukup”, tapi dia bisa beli apa yang jadi impiannya. Mulai dari HP baru, kamera, sering jalan kesana-sini dan…. Dini buka tabungan haji :”

Malu, aku aja belum kepikiran buka tabungan Haji ☹

Aku juga masih inget, personil makan siang bersama, ada aku, Dini, Jeje, Dita, Mbak Wiwin, Teh Farah, dan lain-lain. Breakout langsung penuh begitu kita dateng, tapi kalo breakout penuh, otomatis kita mesti nunggu giliran dulu. Alhamdulillah, silaturahim masih berjalan walaupun aku lulus dari NET. Menyempatkan explore Kebun Raya Bogor bareng Dini, Jeje, dan Dita. Sederhana, tapi banyak kenangan disana. Ngga yakin kalo kesana lagi bisa mengenang tanpa menitihkan air mata :” Momen indah berempat terakhir diabadikan saat aku mau nikah :”

Hari Terakhir Aku Kerja di NET. Lokasi: Gudang Marketing | Ki-Ka: Dini-Dita-Gita-Jeje
Bridal Shower Sebelum Aku Nikah. Lokasi: Happiness Cafe | Ki-Ka: Jeje-Dita-Gita-Dini
Jalan-Jalan ke Taman Bunga Nusantara. Ki-Ka: Teh Farah-Kak Anis-Gita-Dini

Ngga akan cukup satu halaman jika menceritakan kenangan bersama Dini. Dini temanku nonton acara musik, temen makan siang, temen salat bareng, sekalipun bukan pelanggan, tapi aku suka jadi anak magang bazaar Giwanchy. Ngga cuma aku, pasti banyak diluar sana yang akan kangen dengan segala tingkah lakunya Dini. Mulai dari kebrisikannya yang kadang ganggu, lawakan yang suka garing, sapaan khas ia pada setiap orang, nyanyiannya yang ngga jarang dibales “Din, suara lo bagus, tapi lebih bagus lagi ngga usah nyanyi”, yang terpenting, keceriaannya yang bisa membuat banyak orang bahagia 😊

Ulang Tahun Teh Farah | Dini Ada Di Belakang Teh Farah (Yang Bawa Kue)
Makan-Makan Sales&Marketing NET | Dini Ada Di Depan Kiri, Belakang Mas Tenny (Yang Paling Depan)
Makan-Makan Sales-Marketing NET | Dini Ada di Depan Kiri, Belakang Mas Ivan (Cowok Yang Paling Depan)
Makan-Makan Sales&Marketing NET | Ki-Ka: Dini-Gita-Mbak Dhana-Jeje-Dita-Mbak Wanna
Makan-Makan Sales&Marketing NET | Dini Ada Di Paling Kiri Pake Sepatu Putih

Dari Dini kita belajar, pelajaran ini pun ku rangkum dan ku refleksikan pada diriku sendiri:

  • Allah sudah menentukan qadha dan qadar Manusia. Kita ngga akan pernah tahu kapan dan bagaimana cara kita “dipanggil” kembali.

Tugas kita adalah selalu mengikuti perintah dan menjauhi larangannya, memperbaiki diri, meningkatkan ketaqwaan. Beramal sebanyak mungkin, meminta ampun sesering mungkin. Merasa diri kita sudah baik? Jangan. Merasa umur kita masih Panjang? Jangan.

  • Ngga pernah rugi jika kita menebar kebaikan kepada setiap orang.

Aku menjadi saksi bahwa banyak sekali orang yang sayang sama Dini. Saat hari akhirnya, Rumah Sakit MMC sesak dengan orang yang peduli sama Dini. Mulai dari yang aku kenal hingga yang ngga aku kenal. Aku pun jadi berfikir, apa kah jika aku “dijemput” nanti akan banyak orang yang menolong dan datang menemuiku? :”

  • Jagalah Kesehatan.

Meskipun “penjemputan” tidak mengenal sehat-sakit, setidaknya kita berbahagia menjaga kesehatan.

  • Berteman dengan orang saleh.

Karena teman-teman yang saleh akan menolong kita kelak di akhirat.

Tangisan ku bukan hanya karena kehilangan sosok teman, tetapi juga membayangkan bagaimana rasanya ruh “ditarik”? Apa kah aku akan merasakan sakit yang teramat sangat? Apa kah aku tidak akan merasakan sakit sama sekali? Bagaimana rasanya dialam kubur?. Sepi, sendiri, hanya bersama amal ibadahku. Apa kah amal ibadahku cukup untuk bisa menerangi kuburku dan menyelamatkanku menyebrangi jembatan shiratal mustaqim menuju Surganya Allah? Takut. Belum pantas merasa lolos melewatinya dengan lancar, yang ada, perasaan gemetar dan khawatir tergelincir.

Hikmahnya, walaupun sedih, aku tenang Allah “memanggil” Dini di hari Jumat, janji Allah tidak pernah salah, Allah pasti akan menjaga Dini dari fitnah kubur 😊

Walaupun sedih, no more “MbaGhit” dengan suara annoy dan kepikiran kasian Dini sendirian di dalam tanah ☹, tapi aku yakin, amal ibadah dan doa dari keluarga, saudara dan banyak sahabat akan menemani Dini di alam sana 😊

Selamat jalan ya Din :”

We always love and miss you :”

4 Komentar

  • Rani

    Turut berduka cita sedalam-dalamnya Mbak Gita. Semoga Almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Aamiin.

    Terima kasih juga atas pengingatnya mbak. Umur memang ngga ada yang tau ya. Yang bisa kita lakuin cuma berusaha jadi sebaik-baiknya manusia.

    • gitaregi

      Hi, Mbak Nova
      Makasih banyak ya Mbak :”
      Aamiin aamiin untuk doa baiknya, semoga dikabulkan Allah ya 🙂
      Iya mbak, setiap ngeliat fotonya, aku bergidik, ngga nyangka banget, semua kejadiannya cepet, ngebayangin jadi keluarganya pun merinding :”
      Kita saling mengingatkan ya mbak. Pasti aku banyak salahnya 🙁

    • gitaregi

      Selama puasa ini suka inget dini terus mbak ven 🙁
      Biasanya suka mau janjian bukber 🙁 tapi sekarang udah ngga bisa 🙁
      terus merinding sendiri juga, takut bulan ini jadi ramadan terakhir 🙁
      sad banget 🙁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *